 |
| |
 |
| |
| Full name : Joliana Naritasari |
| Nick name : Joli |
| Birth place / date : Bandung / 1Januari 1980 |
| Status : single |
| Interest : writing a song |
| Love : my parents |
| Music : Diana Krall, Sarah Mc Lachlan |
| Book : Middlesex |
| Quote : Life is beautiful |
| |
|
|
|
|
|
| Please, we need help to keep these characters alive by add them. Thanks for your support. Just click here >>> |
 |
|
| |
|
| |
Wahai bukit di belakang rumahku
Ijinkan kusapa pohon di puncakmu
Biar kucumbu batangnya yang bercabang tiga
Dia yang bak anak kecil saat telah siang
Girang mengepak angin
Terbangkan awan bergumpal
Mengundang di tangannya burung seberang
Malam dia adalah ibu yang pilu
Terpekur pada bintang
Berbisik pada gelap semak
Tentang anaknya yang tercerabut
Seraya pintu terkuak bedah batangnya
Tumpahkan cahaya
Nyala putih yang tuntun anaknya
Kembali ke garba kasihnya
Biar esok
Anak itu bisa bersuka lagi
Bersama burung yang tak lagi terbang
Selama dia mau
Selama bumi menginginkannya
Untuk rumah baruku,
Joly, Februari 1990 |
| |
|
| |
Setelah suamiku meninggal, banyak laki-laki yang mendekatiku. Kang Jaja selalu nongkrong di depan rumahku. Pak Ndang, bekas kepala sekolahku sering memberiku baju, perhiasan dan dia pernah menawariku motor. Haji Sukarna pernah menawariku rumah mewah di alun-alun kalau aku mau jadi istri keduanya. Dan aku mulai banyak teman dari Jakarta . Mereka sering berlibur dan menginap di rumahku, nggak laki-laki nggak perempuan, kebanyakan laki-laki. Aku sering ke Jakarta sejak ikut kontes pencarian bintang.
Mungkin tempatku bukan di sini. Mereka mulai gerah dengan keberadaanku. Ibu-ibu yang suami-suaminya selalu melotot kalau aku lewat di depan mereka. Ada yang masih sopan, ada yang sudah kelewatan. Atau laki-laki yang merasa sakit hati karena merasa aku abaikan. Terakhir mereka bilang aku piaraan bule. |
| |
|
| |
| Matahari mulai tinggi, bayangan pohon di belakangku mulai menyempit. Aku masih duduk tersimpuh setengah telungkup, mencari-cari sisa bajuku, tapi yang kutemukan cuma ceceran potongan rambutku. Di sini, di bawah pohon ini, tempatku bermain waktu kecil. Tempat aku berlari-lari, menidurkan bonekaku. Hanya aku dan pohon ini. Tempat aku berkhayal menjadi seorang superstar. Tapi di sini pulalah aku diseret seperti anjing. |
| |
|
| |
Duduk di sebelahku. Di atas batu berbentuk hati. Jangan jauh-jauh dariku. Biarkan kulitmu bertemu kulitku. Merah tanganmu menyentuh merah tanganku. Karena kita ini masih kecil. Biarkan masa yang terbuang itu terkumpul di sini. Biarkan rasa sakit kita melebur di tempat ini. Tempat yang tidak pernah orang melihat. Tempat yang tidak pernah orang mengerti.
Pegang tanganku. Jangan ragu untuk mendekapku. Tempat ini ditakdirkan untuk kita berdua. Kalau kita mati, kuingin kita tertidur di sini. Walaupun bentuk kita partikel tanah, kuingin kita tetap seperti ini. |
| |
|
| |
Sedetik
Sebelum hujan turun
Lihat di sini
Warna itu belum pernah ada
Jangan berpaling
Hujan belum turun
Di lembut sukmaku
Maukah kau berhenti berlari
Karena akarku tak mungkin tercabut
Pejamkan matamu sejenak di sampingku
Di dunia yang tak ada cerita
Kau memberiku nama
Merekah menjadi yang terindah
Biar titik ini jadi pijakan
Tempat kita rebah bersama
Menerima butiran cahaya
Sedetik
Setelah hujan turun
Kan kubisikkan
Aku mencintaimu |
| |
|
| |
| Kulihat cahaya-cahaya api mulai menyala di tangan orang-orang itu. Bayang-bayang mereka mulai mendekat. Tapi ada satu bayangan putih di antara mereka. Bergerak cepat seperti cahaya. Apakah malaikat telah siap menjemputku? Api mulai membesar di sekelilingku, tetapi tidak menyentuhku. Semakin membesar dan membesar hingga bayangan orang-orang yang mengelilingiku sudah tidak terlihat lagi. Pandanganku pun mulai memutih. Kesadaranku mulai menghilang. Apakah aku sudah mati? |
| |
|
|
|
| Please, we need help to keep these characters alive by add them. Thanks for your support. Just click here >>> |
 |
|
|
|