 |
| |
 |
| |
| Full name : Radimas Satrio Wetan |
| Nick name : Etan |
| Birth place / date : Semarang / 1Januari 1980 |
| Status : single |
| Interest : karate |
| Book : Musashi |
| Favorite : my town |
| Wish : my parent forgiveness |
| Quote : there is no normal life, there is just |
| life |
|
|
|
|
|
| Please, we need help to keep these characters alive by add them. Thanks for your support. Just click here >>> |
 |
|
| |
|
| |
| Inilah kampungku. Rumah-rumahnya tipikal rumah kampung yang sederhana, bagian rumahnya masih ada yang menggunakan kayu dan seng, dicat putih seadanya. Pagarnya kebanyakan dari bambu. Dan pagi ini bendera merah putih sudah berkibar di setiap depan rumah, walau hanya menggunakan tiang bambu dan diikat dengan tali seadanya.
Rumahku mungkin yang paling representatif dibanding yang lain. Bapakku seorang dosen Arsitektur, ibuku dosen Teknik Kimia. Tidak seperti dosen-dosen lain yang sering ngobyek di luar, mereka terlalu akademisi, pengabdian mereka hanyalah untuk ilmu pengetahuan. Mereka sama-sama mengambil S2 di ITB, dan di sana pulalah mereka bertemu. Jadi wajar jika hidup kami bisa dibilang sederhana. Apalagi kami 6 bersaudara dan aku anak paling bungsu. |
| |
|
| |
| Butiran pasir terasa di telapak kakiku dan riak air sudah mulai menyentuhku. Aku melewati bayang-bayang kolom anjungan di air. Peni sudah di sana berputar-putar seiring dengan ombak yang menghantam kakinya. Sosoknya seperti siluet yang menari di latar semburat langit yang menguning. Dia melambaikan tangannya. Senyumnya secerah garis-garis sinar matahari yang mulai muncul. Dia begitu cantik. Sesuatu paling indah yang pernah terjadi di dalam hidupku. |
| |
|
| |
| “Kalau babi betina sedang birahi, dia akan menggoda babi jantan, tinggal menunggingkan pantatnya saja sambil bersuara nguiiik…” Itulah kata-kata yang keluar dari mulut bapakku. Dia memang begitu kalau menasehati anak-anaknya. Tidak langsung menunjuk orang, tetapi menggunakan cerita-cerita sebagai perumpamaan. Biasanya cerita yang diambil dari tokoh-tokoh pewayangan, karena bapaknya dulu seorang dalang. Tapi sekarang dia memakai karakter babi. |
| |
|
| |
| Aku ingat Peni. Merasakan apa yang dia rasakan. Betapa dia begitu tak berdaya. Berapa lama dia harus bertahan dengan penderitaannya hingga terengut nyawanya. Dengan darah dan jiwaku, aku benar-benar tidak rela Peni diperlakukan seperti itu. Aku benar-benar muak! Kuangkat badanku dan kukibaskan tanganku, hingga orang-orang itu terhuyung ke belakang. Orang yang mencengkeram kepalaku tadi, pendek dan brewokan, berusaha untuk berdiri. Tidak kusia-siakan kesempatan ini untuk melayangkan tinjuku ke kepalanya. Dan sesuatu terjadi. Dia langsung terkapar di lantai. Kali ini benar-benar kulihat di bawah sinar lampu pijar. Kepalanya pecah seperti semangka yang terbelah-belah. Otaknya berhamburan, darahnya muncrat sampai ke tembok toilet. Aku berdiri termangu. Kulihat lumuran darah masih menetes di tanganku. Orang-orang masih berdiri terpaku di tempatnya masing-masing. Satu orang maju mengayunkan balok kayu ke arahku. Aku tangkis dan balok itu patah jadi dua. Mereka lari berhamburan keluar toilet. Aku kejar orang yang membawa balok kayu tadi, persoalanku belum selesai, penderitaan Peni belum selesai dan mereka harus membayarnya. Kalau bisa mereka semuanya. |
| |
|
|
|
|
|
|